Penyakit Epilepsi

Tak jarang banyak orangtua yang frustasi begitu mengetahui anaknya mengidap epilepsi atau dalam istilah sehari-hari dikenal dengan penyakit ayan.

Bayangan kejang-kejang mendadak yang menakutkan dan masa depan suram langsung berkelebatan. Otak kita terdiri dari jutaan sel saraf atau neuron yang bertugas mengkoordinasi semua aktivitas tubuh termasuk perasaan, penglihatan, berpikir dan menggerakkan otot.

Pada penderita epilepsi terkadang sinyal-sinyal sel saraf otak tidak beraktivitas sebagaimana mestinya. Hal ini terjadi karena berbagai unsur, antara lain diduga karena pernah terjadi trauma di kepala , adanya kerusakan pada otak dalam proses kelahiran, stroke dan tumor otak.

Hipocrates adalah orang pertama yang berhasil mengidentifikasi gejala epilepsi sebagai masalah pada otak. Seseorang dapat dinyatakan mederita epilepsi bila orang tersebut setidaknya telah mengalami kejang yang disebabkan alkohol dan tekanan darah yang sangat rendah.

Epilepsi atau ayan merupakan gangguan yang terjadi bila impuls eletrik teraganggu. Epilepsi atau ayan adalah sebuah penyakit yang bisa saja dialami oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang tidak ada garis keturunan yang menurunkannya.

Epilepsi ini merupakan sebuah gangguan yang terjadi di sistem syaraf otak manusia yang disebabkan adanya aktifitas kelompok sel neuron yang terlalu berlebihan hingga akhirnya terjadi berbagai reaksi ada diri orang yang menderitanya.

Epilepsi sebenarnya terjadi karena lepasnya muatan listrik yang berlebihan dan mendadak pada otak sehingga penerimaan serta pengiriman impuls dari otak ke bagian-bagian lain dalam tubuh terganggu.

Seseorang dinyatakan menderita epilepsi jika orang tersebut mengalami kejang yang bukan karena alkohol dan tekanan darah yang sangat rendah.

Beberapa hal yang bisa menyebabkan epilepsi atau faktor predisisposisi penyakit epilepsi adalah :

  1. Asfiksia neonatorum
  2. Riwayat demam tinggi
  3. Riwayat ibu-ibu yang mempunyai faktor resiko tinggi (tenaga kerja, wanita dengan latar belakang susah melahirkan, penggunaan obat-obatan, dianetes, atau hipertensi)
  4. Pascatrauma kelahiran
  5. Riwayat bayi dari ibu yang menggunakan obat antikonvulsan yang digunakan sepanjang kehamilan.
  6. Riwayat intooksidasi obat-obatan atau alkohol
  7.  Adanya riwayat penyakit pada masa kanak-kanak (campak, penyakit gondongan, epilepsi bakteri).
  8. Riwayat gangguan metabolisme dan nutrisi atau gizi.
  9. Riwayat keturunan epilepsi.
Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Bahaya Epilepsi Pada Anak

Rasanya tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya mengalami sebuah gangguan ataupun penyakit, terlebih bila itu epilepsi yang merupakan penyakit kronis. Ada bermacam macam ketakutan yang merasuk di benak pada orang tua, apakah anaknya bisa tumbuh dan cerdas seperti anak normal lainnya atau justru sebaliknya?

Epilepsi memang akan mempengaruhi otak anak, disebabkan karena otak yang sedang berkembang sangat rentan terhadap perubahan dari dalam atau luar tubuh. Pada anak, epilepsi dapat mempengaruhi fungsi kognitifnya yaitu kemampuan dalam belajar, menerima dan mengelola informasi dari lingkungan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Anak-anak penyandang epilepsi umumnya mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian (atensi) dan mengingat (memori). Gangguan kognitif ini dipengaruhi olehh usia saat terjadinya epilepsi, jenis serangan bagian otak yang terkena, stressor psikososial, dan pengobatan yang menggunakan lebih dari satu obat epilepsi.

Bagian otak yang mengalami gangguan akan menentukan jenis gangguan kognitif yang dialami. Misalnya, jika bagian yang terkena adalah bagian kiri, umumnya akan memberikan gejala berupa gangguan berbahasa dan kemampuan verbal, kemampuan mengenal dan mengingat apa yang didengar, mengeja, membaca, berbicara, kemampuan berhitung dan kemampuan bidang matematika.

Sementara jika bagian yang terkena adlaah bagian kanan, gejala yang timbul berupa gangguan untuk mengenal dan mengingat kembali apa yang dilihat, menulis serta mengakibatkan koordinasi motorik yang buruk, sehingga tidak termapil dan sulit dalam membedakan antara kanan dan kiri.

Hal ini coba diatasi oleh ahli saraf dengan program rehabiltasi kognitif yang berguna untuk menstimulasi fungsi kognitif. Misalnya melalui kegiatan fisik, latihan motorik halus, dan latihan otak dengan menggunakan program komputer. Anak juga dapat melatih memori dengan membuat album foto kenangan, buku harian dan sebagainya.

Gangguan yang dialami ibu pada masa kehamilan serta proses persalinan yang sulit bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak dan timbulnya epilepsi. Karena itu kejadian epilepsi pada anak-anak lebih tinggi. Namun dengan kepatuhan minum obat dan pola hidup yang sehat epilepsi bisa disembuhkan.

Kejang pada anak dapat disebabkan karena demam, infeksi di otak, gangguan metabolisme dan elektrolit, keracunan, kerusakan atau gangguan pertumbuhan otak, gangguan peredaran darah otak, penyakit epilepsi, dan tumor otak. Kejang yang berulang atau terus menerus dapat merusak otak sehingga kemungkinan anak tidak akan mencapai pertumbuhan yang optimal.

Anak tampak lethargis atau tidak sadar. Jika anak tampak terus-terusan mengantuk dan lemas ketika seharusnya dia bangun dan sadar atau apabila pandangannya kosong dan tidak begitu memperhatikan. Jika anak kejang. Kejang baru pertama kali, kejang yang tidak disertai demam, diserati demam tinggi, kejang salah satu bagian tubuh saja, kejang terus menerus (lebih dari 10 menit), setelah kejang anak lumpuh, atau setelah kejang anak tidak sadar.

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Pengobatan Anti Epilepsi

Epilepsi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan dalam waktu yang lama. Obat Anti Epilepsi (OAE) dikonsumsi untuk menekan aktifitas listrik yang berlebihan penyebab epilepsi. Kesembuhan penyandang epilepsi sangat ditentukan oleh pemilihan obat yang tepat dan adekuat, khususnya pada anak-anak guna menghindari risiko gangguan pada tumbuh kembangnya seperti penurunan konsentrasi anak.

Kepatuhan dalam mengonsumsi obat juga sangat penting guna mengontrol serangan epilepsi. Serangan kejang yang sering berulang akibat kepatuhan minum obat akan menyebabkan jaringan otak yang tidak rusak menjadi rusak sehingga terapi jadi makin sulit, bahkan bisa timbul risiko yang lebih bahaya. Untuk itu perlu ada disiplin minum obat.

Pemberian Obat Anti Epilepsi dilakukan setelah diagnosis epilepsi berhasil ditegakkan. Lalu terdapat minimum dua bangkitan dalam satu tahun. Penting juga untuk memastikan bahwa penyandang dan atau keluarganya sudah menerima penjelasan tentang tujuan pengobatan dan kemungkinan efek samping yang timbul dari Obat Anti Epilepsi.

Penggunaan dan pemilihan obat harus berdasarkan pengawasan dokter. Pemilihan obat anti epilepsi sendiri tidak sama pada masing-masing orang. karena pemilihan didasarkan pada jensi kejang atau bangkitan epilepsinya, frekuensi kejang, penyebab kejang, serta efek sampingnya.

Kebanyakan epilepsi dapat dikendalikan dengan satu macam obat. Obat anti epilepsi lini pertama yang digunakan antara lain fenitoin, karbamazepin, dan asam valproat. Obat dari golongan baru seperti gabapentin, pregabalin, vigabatrin, umumnya lebih dapat ditoleransi tubuh dibanding dengan obat anti epilepsi.

Obat anti epilepsi dikonsumsi untuk mengontrol serangan. Obat anti epilepsi sudah diminum secara teratur, tapi kenapa kejang masih juga datang? Jika frekuensi kejang tidak juga berkurang, maka kemungkinan ada beberapa hal yang mencetuskannya.

1. Dosis obat yang kurang tepat atau kurang adekuat untuk mencegah kejang datang kembali.

2. Waktu pemberian dan pengenalan obat yang kurang pas. Misalnya dosis dinaikkan terlalu cepat

3. Kurangnya pengelolaan terhadap faktor-faktor pencetus bangkitan, seperti kurang tidur, stress, konsumsi alkohol, dan obat-obatan tertentu.

4. Obat yang tidak stabil, jika salah cara penyimpanannya dapat menyebabkan berkurangnya efektivitas obat. Oleh karena itu, obat sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan jauhkan dari panas.

5. Pasein lupa atau sengaja tidak meminum obat. 40% pasien yang mengalami gejala toksik atau efek samping obat anti epilepsi menghentikan penggunaan obat tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

6. Pasien bukan menderita epilepsi, melainkan kejang non epilepsi, misalnya pada gangguan psikiatrik panik atau gangguan kepribadian.

7. Pasien tidak patuh atau menghentikan pengobatan secara sepihak. Penyebabnya beragam, dari mulai bosan, mual akibat efek samping obat hingga tidak kuat secara biaya.

Obat Anti Epilepsi generasi baru memang lebih mahal, namun lebih aman dengan efek samping dan interaksi obat lain lebih kecil. Bila biaya menjadi persoalan, baiknya bicarakan secara intens dengan dokter untuk dicarikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan yang ada. Hindari mengganti obat tanpa petunjuk dokter.

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Pencegahan Penyakit Epilepsi

Pada kasus-kasus tertentu, epilepsi dapat dicegah bergantung pada penyebabnya. Unutk mencegahnya epilepsi akibat komplikasi saat kehamilan dan proses kelahiran, diperlukan  perawatan prenatal (sesaat sebelum kelahiran) yang baik. Untuk mencegah epilepsi yang dicetuskan akibat infeksi, dapat diberikan vaksinasi penyakit tertentu.

Pada epilepsi yang disebabkan oleh trauma kepala, mencegahnya dengan menggunakan helm, safety belt dan alat pelindung lain saat berkendara, untuk mencegah trauma kepala. Jika telah terjadi cedera, obati segera untuk menurunkan resiko terjadinya epilepsi. Pada lansia, hindari faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan stroke.

Gambaran : pertolongan pada penderita epilepsi

Sebagai proses pencegahan ada beberapa kiat untuk menghadapi jika terjadi serangan epilepsi, adalah

Saat ada orang yang mengalami kejang di tempat umum, reaksi yang umum dijumpai adalah orang-orang menjadi panik dan mencoba menghentikan kejang dengan memegangi orang tersebut. Bahkan ada yang menjejalkan sendok, handuk atau kain ke dalam mulut orang yang sedang kejang. Perlu diketahui, bahwa umumnya kejang akan berhenti dengan sendirinya. Yang dapat kita lakukan adalah menolong orang yang kejang agar tidak mengalami cedera serius.

-  Tetap tenang dan tidak panik. Ini  adalah kunci dalam menolong seorang yang kejang, baik akibat epilepsi atau bukan.

- Bersihkan ludah yang leluar untuk mencegah penyumbatan saluran napas, dan jangan memasukkan benda apapun juga ke dalam mulut pasien. Ini dapat menyebabkan tersedak, gigi patah atau cedera lain yang lebih serius.

- Balikkan tubuh orang tersebut secara perlahan ke satu sisi. Jangan coba-coba menghentikan kejang dengan menahan tangan atau kakinya. Ini malah dapat menyebabkan cedera pada otot dan tulang.

- Istirahatkan kepala penyandang epilepsi pada tempat yang datar dan lembut supaya tidak membentur lantai dan untuk menopang leher.

- Jauhkan benda tajam dari sekitar penyandang yang sedang kejang untuk mencegah cedera.

-          Jangan pernah meninggalkan orang yang sedang kejang sendirian. Jika perlu telepon ambulans. Penyandang perlu segera di bawa ke rumah sakit jika ia belum pernah kejang sebelumnya, kejang lebih dari 2-3 menit, terjJauhkan benda tajam dari sekitar penyandang yang sedang kejang untuk mencegah cedera.

-          Jangan pernah meninggalkan orang yang sedang kejang sendirian. Jika perlu telepon ambulans. Penyandang perlu segera di bawa ke rumah sakit jika ia belum pernah kejang sebelumnya, kejang lebih dari 2-3 menit, terjadi cedera, kejang pada wanita hamil, kejang pada orang dengan diabetes dan jika tidak ada orang yang tahu apa yang harus dilakukan.

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Diagnosis dan Terapi Epilepsi

Untuk menegakkan diagnosis epelipesi tidak sembarangan. Diperlukan pemeriksaan yang lengkap, mulai dari wawancara terhadap keluarga atau saksi mata terjadinya kejang, sampai pemeriksaan penunjang. “Wawancara langsung terhadap penyandang epilepsi sulit dilakukan, karena paisen tidak mampu mengingat apa yang terjadi saat kejang. Perlu juga dipastikan apakah yang terjadi memang benar kejang bukannya pingsan atau jatuh.

Diagnosis yang tepat harus dilakukan sedini mungkin dan penentuan obat anti epilepsi yang tepat akan mempengaruhi kesembuhan penyandang epilepsi. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan berupa EEG (elektroensefalografi) dapat memberikan informasi tambahan dalam menegakkan diagnosis. EEG akan memberikan gambaran rekaman aktifitas listrik di otak. Sel-sel syaraf di lapisan luar otak akan mengeluarkan gelombang listrik dengan voltase yang sangat kecil (mV). Kemudian gelombang listrik ini dialirkan ke mesin EEG untuk diamplifikasi, sehingga terekam ensefalogram dengan ukuran yang cukup untuk menentukan jenis gelombang otak yang terjadi.

Tes darah dan tes urine dapat dilakukan bergantung pada kondisi dan situasi pasien, pemeriksaan lain yang dapat membantu antara lain MRI atau CT scan.

Pengelolaan epilepsi

Obat antiepilepsi merupakan terapi utama dalam pengelolaan epilepsi. Obat diberikan atas dasar pertimbangan kemungkinan berulangnya serangan epilepsi dan efek samping pemberian obat. Obat ini baru diberikan jika diagnosis epilepsi sudah ditegakkan. Jika kejang yang terjadi bukan epilepsi. Pengobatan ditujukan untuk mengatasi penyebab. Misalnya jika kejang terjadi akibat demam tinggi maka diberikan kompres air hangat dan obat demam.

Dalam pengelolaan epilepsi, paisen beserta keluarganya perlu diberikan informasi selengkap-lengkapnya mengenai epilepsi, tujuan pengobatan dan efek samping yang mungkin timbul dari pengobatan. Terapi dimulai dengan satu macam obat, dengan dan sebisa mungkin menghindari pengobatan dengan lebih dari satu macam obat untuk menghindari efek samping.

Terapi penyakit epilepsi pada lansia dan wanita

Pada lansia, sering kali sudah timbul berbagai masalah kesehatan dan memerlukan kesehatan dan memerlukan beberapa macam obat untuk mengatasinya. Obat anti epilepsi dapat bereaksi dan berinteraksi dengan banyak obat, sehingga sebelum minum OAE sebaiknya ia menjalani pemeriksaan fungsi hati dan ginjal terlebih dahulu. Terapi standar biasanya cukup efektif, namu dapat juga menggunakan OAE jenis baru untuk meningkatkan keptuhan pasien. Ini karena efek sampingnya lebih ringan dibanding dengan OAE jenis lama.

Pada wanita penyandang epilepsi, pemilihan obat juga perlu diperhatikan. Ini karena obat anti epilepsi tertentu dapat menurunkan efektivitas obat kontrasepsi. Selain itu, ternyata naik turunnya hormon juga mempengaruhi epilepsi. Estrogen juga cenderung mempengaruhi epilepsi, sedangkan progesteron bersifat menurunkan epilepsi. Dengan demikian, mungkin diperlukan obat tertentu seperti penghambat ovulasi.

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Penyebab dan Jenis Penyakit Epilepsi

Pada tahun 2009, data WHO menyebutkan bahwa penyandang epilepsi di seluruh dunia diperkirakan mencapai 50 juta orang, dengan 50% ditemukan di negara berkembang. Epilepsi tidak hanya menyerang anak-anak, namun juga dapat terjadi pada dewasa, lansia, bahkan bayi yang baru lahir sekalipun. Ini dikarenakan banyak hal yang dapat mencetuskan terjadinya epilepsi.

Menurut Dr. Irawan, gangguan atau ketidakseimbangan neurotransmitter sebagai pencetus epilepsi, bisa terjadi dipisu oleh cedera kepala, kurangnya oksigen pada saat proses kelahiran, gangguan perkembangan otak, selaput otak, dan infeksi otak, gangguan perdarahan darah atau stroke, tumor otak dan akibat kelainan genetik tertentu. Meski demikian, hampir 2/3 kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya.

Awas Pencetus Serangan Penyakit Epilepsi

Di luar serangan, pada dasaranya penyandang penyakit epilepsi seperti orang normal lainnya. Untuk itu perlu diketahui penyebab yang bisa mencetuskan serangan, seperti kurang tidur atau tidur terputus-putus dan alergi makanan. Konsumsi alkohol, rokok dan obat yang menstimulasikan otak dapat menurunkan ketahanan terhadap kejang, sehingga lebih mudah terjadi bangkitan. Menurut Dr. Irawati, cahaya berkedip-kedip, seperti pada video game atau tayangan dengan kilatan-kilatan cahaya juga dapat mencetuskan serangan.

Apalagi jika paisen lupa meminum obat anti epilepsi atau kehabisan obat anti epilepsinya, misalnya dalam perjalanan jauh. Faktor lain adalah stres dan tekanan dalam kehidupan. Oleh karenanya pasien dianjurkan untuk menerapkan metode relaksasi.

Jenis epilepsi

Selama ini, jenis epilepsi yang paling banyak dikenal adalah jenis kejang seluruh badan. Mungkin karena epilepsi jenis ini merupakan epilepsi yang paling nyata dan mudah dilihat. Padahal, sebenarnya kejang dapat digolongkan menjadi 2 kelompok besar, yaitu kejang umum dan kejang parsial atau sebagian.

Mengetahu gejala dan tanda-tanda epilepsi sangat penting, untuk membedakannya dengan kondisi kesehatan lain yang tentunya menentukan pengobatan pada pasien. Perlu diingat epilepsi pada anak dan dewasa berbeda, baik dilihat dari sisi penyebabnya, gejala yang tampak, pengobatan yang diberikan serta prognosisnya.

• Kejang parsial atau fokal

Jenis kejang ini dikelompokkan menjadi kejang sederhana dan kejang parsial kompleks.

- Kejang parsial sederhana. Kejang ini tidak menyebabkan hilangnya kesadaran. Bergantung pada lokasi otak yang mengalami gangguan, biasanya kejang hanya terjadi pada satu tempat, misalnya gerakan menyentak atau merinding pada tangan. Setelah kejang berakhir, biasanya  ada kelemahan sementara pada otot-otot yang terkena.

- Kejang parsial kompleks, merupakan kejang yang sering terjadi pada dewasa. Kejang jenis ini menyebabkan perilaku tidak disengaja atau tidak terkontrol, bahkan sampai menyebabkan kehilangan kesadaran sesaat, seperti seseorang yang sedang bengong.  Setelah beberapa detik kemudian terjadi gerakan berulang seperti mengunyah atau mengulum bibir. Episode kejang biasanya tidak lebih dari dua menit.

• Kejang umum

Kejang umum disebabkan oleh gangguan sel syaraf yang lebih luas dibanding kejang fokal, sehingga dampak terhadap  pasien juga lebih besar. Jenis kejang ini dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu kejang tonik-klonik (grand mal) atau absence (petit mal).

- Kejang tonik-klonik. Dimulai dengan fase tonik, yaitu kontraksi otot secara tiba-tiba yang menyebabkan pasien jatuh dan berbaring kaku selama kurang lebih 10-30 detik. Jika kerongkongan ikut mengalami kontraksi, mungkin dapat terdengar suara bernada tinggi atau seperti menangis. Setelah fase tonik masuk fase klonik. Dimana otot mulai mengalami kaku dan relaks secara bergantian. Setelah itu, pasien dapat kencing atau BAB tanpa sadar. Kejang biasanya berlangsung 2-3 menit. Pasien kemudian mulai sadar secara bertahap, lalu setelah bangun ia akan merasa bingung dan sangat lelah. Beberapa orang dapat memiliki firasat bahwa ia akan mengalami kejang. Hal ini disebut aura.

- Kejang absence (Petit mal), merupakan kehilangan kesadaran sementara, yatitu sekitar 3-30 detik. Ini ditandai dengan berhenti bergerak dan hilangnya perhatian beberapa saat, sehingga mungkin tidak disadari oleh orang lain. Penyandang epilepsi pada anak-anak, dapat terlihat hanya seperti bengong atau berjalan tanpa arah. Mungkin hanya terlihat seperti sedang mengedip-ngedipkan mata atau gerakan kecil lainnya. Petit mal kadang mirip dengan kejang parsial sederhana maupun kompleks. Namun pada petit mal, serangan dapat terjadi sampai 50-100 kali setiap harinya. Sekitar 25% penyandang petit mal akhirnya berkembang menjadi grand mal.

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Tanda Tanda Penyakit Epilepsi

Epilepsi atau dalam istilah awamnya adalah ayan atau sawan sudah dikenal sejak lama, namun hingga kini pemahaman tentang penyakit ini masih rendah. Stigma negatif masih sering diletakkan kepada penyandang epilepsi baik di negara maju maupun di negara berkembang. Banyak masyarakat masih memiliki pandangan bahwa epilepsi bukanlah penyakit tetapi karena bukanlah penyakit tetapi karena masuknya roh jahat, kesurupan, guna-guna atau sebuah kutukan. Dikucilkan dari lingkungan, dikeluarkan dari sekolah, terhambat karir dan kehidupan rumah tangga merupakan masalah yang sering dihadapi penyandang epilepsi dan membuat mereka tertekan dan depresi.  Ditambah lagi, banyak keluarga penyandang epilepsi yang masih menutup-nutupi keadaan sehingga penanganan epilepsi menjadi tidak optimal. Padahal pada kenyataannya epilepsi sama dengan penyakit-penyakit kronis atau penyakit menahun lainnya. Epilepsi dapat diobati dan dikendalikan sehingga penyandang epilepsi dapat hidup normal dan berprestasi.

Gambar : Penyandang penyakit epilepsi

Tanda-tanda dari penyakit epilepsi

Epilepsi dapat diartikan sebagai kondisi yang ditandai dengan kejang berulang secara spontan. Kejang terjadi sebagai akibat letupan listrik di dalam otak, sehingga terjadi gangguan pada gerakan sensasi kesadaran atau perilaku tanpa disadari penyandangnya.

Otak manusia terdiri dari triliyunan sel syaraf yang saling berhubungan melalui cetusan-cetusan listrik yang diperantai oleh zat kimia yang disebut neurotransmitter. Cetusan listrik ini juga bekerja pada otot, menciptakan kesadaran, pikiran, sensasi, aksi dan pengaturan fungsi tubuh bagian dalam. Jika terjadi gangguan atau ketidakseimbangan neurotransmitter, maka dapat terjadi letupan yang tidak diinginkan dan akibatnya terjadi kejang.

Penting untuk diketahui, yang dimaksud dengan kejang disini  tidak hanya gerakan mengejang di seluruh badan, namun dapat berupa menghilangnya kesadaran atau bengong sesaat, mata mendelik sekejap atau tanda-tanda lain yang kadang tidak disadari penyandang epilepsi maupun orang disekitarnya. Anak dapat sering jatuh atau sulit mengikuti pelajaran. Orang tua atau guru yang tidak teliti, dapat salah mengerti dan menganggap anak tersebut bodoh.

Lebih parah lagi, jika terjadi kejang seluruh badan, orang menganggap penyandang mengalami kesurupan, kena guna-guna atau kutukan. “Akibatnya penyandang epilepsi sering menghadapi masalah psikososiokultural berupa dikucilkan dari lingkungan, dikeluarkan dari sekolah dan pekerjaan, serta rumah tangga terganggu.

Kejang tidak selalu epilepsi

Anggapan di masyarakat, kejang kerap diidentikkan dengan epilepsi ataupun sebaliknya. Nyataya menurut Dr. Irawan, tidak semua kejang adalah epilepsi. Jika kejang menyertai demam tinggi,  kadar gula darah yang rendah, penghentian obat-obatan atau alkohol atau segera setelah trauma kepala, biasanya hal ini bukan kejang akibat epilepsi. Jika hal ini terjadi tanpa riwayat kejang sebelumnya, biasanya tidak perlu diberikan obat anti epilepsi. “Yang diobati hanya penyakit lain yang menyebabkan terjadinya kejang.

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Pertolongan Pertama Pada Penyakit Epilepsi

Epilepsi atau sering dikenal dengan ayan merupakan penyakit gangguan pada sistem saraf otak yang menimbulkan berbagai reaksi pada tubuh manusia. Reaksi itu antara lain melamun sesaat, gangguan kesadaran, kesemutan hingga kejang-kejang.

Diantara beberapa penyakit yang menjadi momok bagi orang banyak, epilepsi adalah salah satunya. Epilepsi memiliki banyak konsekuensi dari segi sosio-ekonomi, antara lain timbulnya rasa malu dalam pergaulan, hilangnya izin mengemudi, kesulitan melakukan pekerjaan dan sebagainya. Selain itu, epilepsi dapat terjadi pada siapa saja diseluruh dinia tanpa batasan usia, gender, RAS sosial dan ekonomi.

Melihat seseorang mendapat serangan epilepsi, apalagi jika ini adalah pengalaman pertama anda, adalah pengalaman yang cukup menegangkan. Namun, epileptik tidak akan membahayakan anda dan sedang sangat membutuhkan bantuan anda.

10 langkah pertolongan pertama yang dapat anda lakukan adalah:

  1. Tetap tenang.
  2. Perhatikanlah sekeliling anda. Apakah orang itu berada di tempat yang berbahaya, misalnya di dekat api, kolam atau tangga? Jika tidak, jangan pindah mereka. Pindahkahlah benda-benda dari sekitar mereka, misalnya meja dan lemari agar tidak jatuh menimpa mereka jika tertabrak.
  3. Catat lamanya serangan. Jika serangan berlangsung selama 5 menit tanpa berhenti, segera panggil ambulans atau siapkan kendaraan untuk mengantarnya ke rumah sakit.
  4. Temani mereka. Jika mereka tidak ambruk, tapi terlihat kosong atau bingung, tuntun mereka menjauh dari bahaya apapun. Berbicaralah dengan tenang.
  5. Jika mereka ambruk, letakkan sesuatu yang lembut dibelakang kepala mereka. Misalnya: bantal atau baju.
  6. Jangan berusaha menahan gerakan kejang mereka. Hal ini justru dapat melukai mereka.
  7. Jangan masukkan apapun ke mulut mereka. Mereka tidak akan mengigit lidah, jangan kawatir.
  8. Periksa kembali waktunya. Jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit, panggil ambulans.
  9. Sesudah kejang berhenti, letakkan mereka di posisi pemulihan dan periksa apakah pernafasan mereka kembali normal. Periksa mulut mereka untuk memastikan tidak ada benda yang menghalangi saluran pernafasan, misalnya makanan atau gigi palsu. Jika mereka sulit bernafas, segera panggil ambulans.
  10. Tetap bersama mereka hingga mereka pulih. Jika mereka terluka atau mendapat serangan lanjutan, segera panggil ambulans.

 

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Diet Pada Penyakit Epilepsi

Diet ketogenik adalah pola makan tinggi lemak dan rendah karbohidrat. Pola makan ini membuat tubuh menghasilkan energi dengan membakar lemak, dan bukan membakar glukosa. Studi menunjukkan bahwa pola makan ketogenik membantu 2 dari 3 anak epileptik (penderita ayan) yang menggunakan pola makan ini. Satu dari 3 anak terbebas dari serangan epilepsi.

Selain dengan mengonsumsi obat anti epilepsi, ternyata terdapat metode lain yang mampu mengurangi kemungkinan timbulnya kejang pada pasien epilepsi. Metode tersebut dikenal dengan program diet kategonik. Faktanya, diet ketogenik telah dikenal sehak tahun 1920-an. Namun metode ini mulai ditinggalkan sering dengan ditemukannya obat anti-epilepso. Diet ini dilakukan dengan jalan mengurangi konsumsi karbohidrat dan menggunakan lemak sebagai sumber s=energi utama. Contohnya dengan mengonsumsi makanan kadar loemak tinggi seperti cokelat, mentega, daging dan mayonaise, serta menghindari konsumsi nasi dan kentang.

Diet kategonik memastikan proses pembakaran lemak ini terus berlangsung. Diet ini memaksa tubuh anak membakar lemak seoanjang waktu dengan konsumsi kalori yang rendah dan lemak yang tinggu. Sekitar 80% sumber kalori akan berasal dari lemak. Sedangkan sisanya dari karbohidrat dan protein.

Setiap kali jam makan, anak mengonsumsi lemak 4 kali lebih banyak daripada protein dan krbohidrat. Jumah makanan dan cairan yang dikonsumsi setiap waktu makan harus diperhitungkan dengan seksama sesuai dengan berat tubuh anak.

 

 

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Cara Menyembuhkan Penyakit Epilepsi

Epilepsi merupakan salah satu penyakit neurologis yang utama. Epilepsi sering dihubungkan dengan disabilitas fisik, disabilitas mental, dan konsekuensu psikososial yang berat bagi penyandangnya (pendidikan yang rendah, pengangguran yang tinggi, stigma sosial, rasa rendah diri, kecenderungan tidak menikah bagi penyandangnya). Epilepsi adalah gangguan neurologis umum kronis yang ditandai dengan kejang berulang tanpa alasan. Ini adalah tanda-tanda kejang sementara dan atau gejala dari aktivitas neuronal yang abnormal, berlebihan atau sinkron di otak.

Umumnya ayan mungkin disebabkan oleh kerusakan otak dalam proses kelahiran, luka kepala, stroke, tumor otak, alkohol. Kadang-kadang ayan mungkin juga karena genetika namun penyakit ayan ini bukan penyakit keturunan. Tapi penyebab pastinya tetap belum diketahui.

Untuk menyembuhkan penyakit ini ada cara sederhana yang dapat dilakukan para penderita, yaitu diet kategonik. Diet ini terbukti dapat menurunkan frekuensi timbulnya kejang pada anak-anak, namun diet ini relatif sulit dinjalankan. Karena pasien hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan berlemak, maka tubuh akan mengalami kekekurangan berbagai nutrisi yang penting, seperti vitamun B, C, dan D. Resiko yang lebih besar adalah terjadnya penurunan gula darah secara drastis akibat pembatasan konsumsi karbohidrat termasuk gula. Diare dan gangguan batu ginjal juga kerap terjadi. Dengan demikian sebelum dan selama menjalankan program diet ini, sebaiknya anda berkonsultasi dengan dokter.

Umumnya pada waktu mencocokkan diet ini dengan kebutuhan anak dan meningkatkan efektifitasnya. Dokter biasanya memulai dengan menanyakan kepada orangtua tentang pola makan anak selama satu bulan terakhir. Bahkan jika diet belum juga berhasil, sejarah pola makan anak selama 2-3 bulan terakhir mungkin juga diperlukan.

Selama melakukan diet kategonik, anak tetap mengonsumsi obat epilepsi, tetapi dosisinya mungkin akan dengan perlahan dikurangi. Jika anak merespon dengan baik diet kategonik ini, dokter bahkan akan mengehentikan obat-obatan seluruhnya.

 

 

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , , , , | Leave a comment

Cara Mengobati Penyakit Epilepsi

Diagnosis epielepsi biasanya membutuhkan bahwa kejang terjadi secara spontan. Namun, sindrom epilepsi tertentu memerlukan pencetus tertentu atau pemicu untuk kejang terjadi. Ini disebut refleks epilepsi.

Penyakit ayan atau epilepsi terkadang kambuh disaat yang tidak bisa diprediksi dan merupakan penyakitn saraf menahun. Walaupun demikian, bukan berarti penyakit ayan tidak bisa diobati. Jika penanganan dan pengobatan dilakukan dengan tepat, maka fungsi sel-sel saraf pada otak akan kembali pulih dan dapat beraktifitas seperti sedia kala.
Tujuan pengobatan adalah menyembuhkan, atau bila tidak mampu menyembuhkan, bisa mengatasi gejala-gejala dan mengurangi efek samping pengobatan. Pada penyakit epilepsi, bila tidak diketahui kelainan struktural, metabolik, atau endokrin yang dapat disembuhkan, maka tujuan pengobatan adalah memperbaiki kualitas hidup penderita dengan menghilangkan atau mengurangi frekuensi sawan tanpa menimbulkan efek samping yang tidak dikehendaki.

Beberapa obat antikonvulsi diberikan untuk mengontrol kejang, walaupun mekanisme kerja zat kimia dari obat-obatan tersebut tetap masih tidak diketahui. Tujuan dari pengobatan adalah untuk mencapai pengontrolan kejang dengan efek samping minimal.
Pengobatan obat-obatan lain mungkin diperlukan jika kontrol kejang tidak tercapai atau bila peningkatan dosis memungkinkan terkkadi toksisitas. Pemberian obat membutuhkan pengaturan karma disesuaikan dengan penyakit yang terjadi, perubahan berat badan atau peningkatan stres. Menghentikan pengobatan antikonvulsan dengan tiba-tiba menyebabkan kejang lebih sering terjadi atau dapat menimbulkan status epileptik.

 

Posted in Epilepsi | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment